Terkuak! Rafah Gaza Palestina Diserang, Media Luar Sebut Inilah Alasan Mengapa Al Jazeera Dibanned Israel!

AKURAT SUMUT - Setelah Israel dengan terang - terangan menyerang Rafah Palestina, Benjamin Netanyahu dengan dingin menyatakan bahwa itu hanyalah sebuah kesalahan tragis, kini media luar dengan gencar buka - bukaan soal Liputan Al Jazeera yang dibanned oleh negara Zionis tersebut.
Langkah yang diambil oleh kabinet Israel pada tanggal 6 Mei untuk melarang Al Jazeera, menutup kantornya di Yerusalem Timur dan Barat, serta menyita peralatan saluran tersebut, menunjukkan usaha keras pemerintah Israel dalam mengendalikan narasi dan gambar-gambar yang keluar dari Gaza.
Kebijakan ini bisa dilihat sebagai bagian dari strategi lebih luas untuk menekan kritik dan mengelola persepsi publik internasional terhadap tindakan Israel di wilayah tersebut.
Al Jazeera, bersama dengan saluran berita Arab lainnya seperti Al Araby, telah sering menjadi sumber berita yang mengungkap situasi di Gaza dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di sana.
Sejak didirikan 28 tahun lalu, Al Jazeera telah menjadi suara penting yang memberikan liputan mendalam tentang isu-isu di Timur Tengah, seringkali menawarkan perspektif yang berbeda dari media arus utama barat. Keberadaan mereka seringkali menjadi tantangan bagi narasi yang disukai oleh pemerintah Israel.
Penutupan kantor dan penyitaan peralatan ini merupakan salah satu bentuk sensor dan kontrol media yang cukup ekstrim. Ini menunjukkan betapa sensitifnya isu-isu yang dilaporkan oleh media seperti Al Jazeera bagi pemerintah Israel.
Tindakan ini kemungkinan besar akan mendapatkan kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia dan komunitas internasional, yang melihat kebebasan pers sebagai salah satu pilar penting dalam masyarakat demokratis.
Penting untuk dicatat bahwa dalam situasi konflik seperti ini, berbagai pihak seringkali berusaha mempengaruhi opini publik dan mengontrol informasi yang beredar. Langkah Israel ini bisa dilihat dalam konteks usaha yang lebih luas untuk membatasi laporan yang mereka anggap merugikan atau yang bisa mempengaruhi citra internasional mereka secara negatif.
Dengan memiliki wartawan yang berbasis di Gaza, memberikan konteks yang tepat, dan menggunakan istilah yang sesuai untuk menggambarkan serangan Israel, liputan Al Jazeera tentang Palestina telah berhasil mencerminkan pendudukan dan usaha kolonial pemukim Israel yang brutal dan ilegal selama 76 tahun.
Israel sebenarnya menyadari hal ini. Itulah mengapa, selama beberapa dekade, mereka secara sistematis menargetkan jurnalis, baik internasional maupun Palestina, yang tidak mengikuti narasi yang mereka ciptakan.
Dilansir dari Newarab oleh Akurat Sumut tercatat Israel membunuh jurnalis AP asal Italia Simone Camilli pada tahun 2014, jurnalis foto asal Inggris James Miller pada tahun 2003, dan koresponden berita asal Turki Cevdet Kılıçlar pada tahun 2010, semuanya tanpa menghadapi konsekuensi atau tuntutan hukum.
Saat ini, Gaza adalah tempat paling berbahaya di dunia bagi jurnalis. Setidaknya 122 jurnalis Palestina di Gaza telah dibunuh oleh pasukan Israel sejak Oktober, mencakup satu dari setiap sepuluh jurnalis yang melaporkan dari Jalur Gaza.
Selain itu, staf Al Jazeera dan keluarga mereka telah menjadi target, mengalami cedera, dan bahkan terbunuh. Ini bukan hal baru, karena Israel telah lama melakukan tindakan represif terhadap Al Jazeera.
Pada tahun 2021, setelah pengusiran di Sheikh Jarrah, Israel membom Menara Al-Jalaa di Gaza yang menampung kantor Associated Press dan Al Jazeera. Pada tahun 2022, tentara Israel membunuh jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh, seorang tokoh penting dalam jurnalisme Palestina, yang memainkan peran krusial dalam peliputan serangan tersebut oleh Al Jazeera.
Saat ini, kita hanya perlu melihat tragedi yang menimpa Wael Al Dahdouh dari Al Jazeera untuk memahami strategi kejam Israel dalam aksi mereka saat ini.
Pada tanggal 26 Oktober, istri, putra, putri, dan cucu Wael tewas akibat serangan udara Israel. Tak lama kemudian, pada tanggal 15 Desember, Wael dan juru kameranya, Samer Abudaqqa, menjadi sasaran serangan udara lainnya, yang melukai Wael dan membunuh Samer. Pada tanggal 7 Januari, putra Wael, Hamzah, yang juga seorang jurnalis, dibunuh oleh serangan udara Israel.
Israel tahu persis apa yang mereka lakukan. Penargetan terhadap Wael Al Dahdouh direncanakan, diperhitungkan, dan dilaksanakan dengan sangat presisi. Ini adalah pesan kepada semua jurnalis Palestina: berani melaporkan kebenaran maka Anda akan menderita.
Perlu diingat, Israel juga melarang akses semua jurnalis asing ke Gaza. Jurnalis Palestina adalah satu-satunya suara yang melaporkan dari lapangan, dan Al Jazeera adalah satu-satunya organisasi berita yang memiliki reporter dan koresponden lokal Palestina.
Dengan melarang Al Jazeera, Israel secara sengaja membungkam suara-suara ini, memungkinkan mereka melakukan kekejaman yang tak terbayangkan tanpa liputan media, dan, dengan adanya pemadaman listrik rutin, dalam kegelapan total.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







