10 Detik Video yang Guncang Labusel, Kisah IM, Biaya Rekreasi Rp350 Ribu, & Bantuan Bupati

AKURAT SUMUT - Hati netizen tersayat video viral seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) menangis tersedu-sedu. Dalam rekaman yang beredar luas itu, siswi berinisial IM (14) mengaku terpaksa berhenti sekolah karena tak sanggup membayar biaya rekreasi sebesar Rp350 ribu.
"Perpisahan jalan-jalan, ikut gak ikut tetap bayar," ujarnya sambil terisak, memantik amarah warganet.
IM, siswa kelas VII MTs Darul Muhsinin, Sungai Kanan, Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara, bercerita sudah mencicil Rp40 ribu. Namun, saat hendak melunasi, ibunya tak punya uang.
"Kutanya sama mama, gak ada duit mama," kata IM. Tekanan tagihan itu, menurut narasi video, membuatnya memutuskan keluar dari sekolah.
Drama berlanjut ketika IM muncul kembali dengan video permintaan maaf. Dengan raut lesu, ia menyebut pernyataan sebelumnya hoaks dan meminta maaf pada Yayasan Pendidikan Darul Muhsinin.
"Berita yang tersebar kemarin itu berita bohong, itu hoaks," katanya. Namun, di tengah permintaan maaf, ia menyelipkan alasan lain: "Saya lebih ingin bekerja, meringankan beban ibuku... bukan uang rekreasi."
Pihak MTs Darul Muhsinin melalui Kepala Sekolah Asri Candra membantah keras tuduhan itu. Dalam klarifikasi resmi, Asri menegaskan IM berhenti atas keinginan sendiri untuk bekerja.
Baca Juga: Panas! PT Tira Gugat PUD Pasar Medan Rp415 Juta Gara-gara Izin Reklame Dijual Dua Kali
"Saya menegaskan bahwa video ataupun pernyataan yang disampaikan ananda IM itu tidak benar, itu adalah hoaks," tegasnya Kamis (24/7).
Tapi, di sisi lain, Asri mengakui adanya aturan kontroversial: siswa wajib membayar Rp480 ribu untuk biaya rekreasi, meski tidak ikut, karena keputusan musyawarah wali murid guna menutup biaya sewa bus.
Ia juga menyebut sekolah telah memberikan bantuan buku, seragam gratis, dan pembebasan SPP setahun pada IM, serta berulang kali mendatangi rumahnya untuk membujuknya kembali.
Gelombang simpati berujung pada aksi nyata. Bupati Labusel Fery Sahputra Simatupang langsung menemui IM.
Dalam pertemuan hangat yang dihadiri jajaran pemda, IM menyatakan keinginannya pindah ke pondok pesantren.
Respons Bupati pun tegas, "Kami akan memastikan Ananda Intan mendapatkan kesempatan layak menuntut ilmu. Semua kebutuhan sekolahnya akan difasilitasi," janjinya penuh tekad.
Istri Bupati, Ny. Indah Fery Sahputra, menambahkan dukungan moril dan materil, termasuk urus administrasi dan perlengkapan sekolah. "Agar Intan bisa kembali bersekolah tanpa hambatan," sambungnya.
Sementara solusi bagi IM mulai terlihat, kasus dugaan pungutan liar ini masih dalam penyelidikan. Kantor Kemenag Labusel berencana memanggil pihak sekolah untuk klarifikasi.
KPAI setempat sudah mengamankan IM guna memastikan perlindungan dan pendampingan. Humas Kemenag Sumut Imam Mukhair menyatakan proses mediasi antara madrasah, KPAI, dan keluarga IM masih berlangsung. "Mereka sedang menyusun jawabannya," jelasnya.
Ironisnya, IM dikenal sebagai siswa berprestasi. Kepala Sekolah Asri memujinya: "Dia hafal surat-surat Al-Quran panjang seperti An-Naba’... aktif di pramuka dan drumband."
Fakta ini makin menguatkan spekulasi bahwa keputusan IM berhenti sekolah lebih didorong tekanan ekonomi keluarga ketimbang sekadar persoalan biaya rekreasi.
Drama IM menyibak luka lama: betapa rentannya anak-anak dari keluarga miskin di sistem pendidikan.
Meski akhirnya tangan pemerintah daerah mengulurkan solusi, kasus ini jadi pengingat keras, transparansi pungutan sekolah dan jaring pengaman bagi siswa rentan masih PR besar.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









