Sumut

Luapan Air Hantam Nias Barat! 595 KK Terdampak, Status Tanggap Darurat 7 Hari Resmi Diberlakukan

Habibi Caniago | 7 September 2026, 19:18 WIB
Luapan Air Hantam Nias Barat! 595 KK Terdampak, Status Tanggap Darurat 7 Hari Resmi Diberlakukan
Pemkab Nias Barat resmi tetapkan status tanggap darurat banjir selama 7 hari usai 595 KK terdampak dan puluhan rumah rusak akibat luapan dua sungai besar. - Dok: istimewa

Nias Barat - Bencana banjir bandang dan luapan air bah menerjang Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, hingga memaksa pemerintah daerah mengambil tindakan ekstrem.

Pemerintah Kabupaten Nias Barat secara resmi menetapkan status keadaan darurat pada tahap Tanggap Darurat Bencana Banjir selama tujuh hari penuh, terhitung mulai 7 hingga 13 September 2026.

​Keputusan krusial ini diambil usai curah hujan berintensitas tinggi memicu luapan dahsyat dua sungai besar, yakni Sungai Lahomi dan Sungai Moroo.

Sapuan air menerjang permukiman warga dan merendam 13 desa yang tersebar di empat kecamatan utama, Lahomi, Sirombu, Mandrehe Barat, dan Mandrehe.

​Berdasarkan data kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nias Barat, sebanyak 595 Kepala Keluarga (KK) terkonfirmasi terdampak langsung oleh bencana ini.

Tak hanya merendam ribuan jiwa, gelombang banjir merusak sedikitnya 36 unit rumah, memutus akses jalan dan jembatan, menewaskan hewan ternak warga, hingga menghancurkan barang elektronik serta perabotan rumah tangga.

​Bupati Nias Barat, Eliyunus Waruwu, menegaskan bahwa langkah penetapan tanggap darurat ini diambil demi menggerakkan seluruh daya dan upaya pemerintah secara masif dan tanpa penundaan.

​“Penetapan tanggap darurat selama tujuh hari ini bukan berarti kita menganggap keadaan akan berlangsung selama tujuh hari. Kita berharap hujan segera berhenti dan kondisi cepat kembali normal. Tetapi pemerintah harus siap apabila hujan berlanjut dan banjir kembali meningkat,” tegas Eliyunus usai memimpin rapat koordinasi lintas sektoral bersama Forkopimda, TNI, Polri, dan Kejaksaan, Senin (7/9/2026).

​Meski hingga saat ini dilaporkan nihil korban jiwa, dampak kerusakan infrastruktur terbilang amat parah. Ruas jalan kabupaten seperti Jalan Gatot Subroto hancur sepanjang 408 meter.

Sementara itu, akses jalan provinsi yang menghubungkan Mandrehe-Sirombu serta Siwalawa II-Sirombu rusak berat dengan panjang total kerusakan mencapai lebih dari 8 kilometer.

​Menanggapi krisis yang melanda, Pemkab Nias Barat langsung mendistribusikan bantuan pangan darurat kepada 592 KK terdampak yang datanya telah terverifikasi. Setiap keluarga dipastikan menerima paket logistik berupa 5 kilogram beras, satu dus mi instan, dan satu papan telur.

​“Saya meminta penyalurannya cepat, tertib, dan tepat sasaran. Jangan sampai ada masyarakat yang berhak menerima tetapi terlewatkan,” ujar Eliyunus menegaskan.

​Selain pasokan bahan pangan, BPBD bersama Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan diperintahkan membangun titik-titik pengungsian darurat yang dilengkapi dapur umum, pasokan air bersih, fasilitas MCK, hingga posko pelayanan kesehatan 24 jam.

​Untuk menjamin kelancaran penanganan bencana, Pemkab Nias Barat menetapkan BPBD sebagai pusat koordinasi satu data. Personel gabungan dari TNI, Polri, dan Kejaksaan Negeri Gunungsitoli turut diterjunkan penuh guna mengamankan lokasi, membantu evakuasi, serta mengawal transparansi penggunaan anggaran darurat.

​Pemerintah Imbau warga di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Lahomi dan Moroo untuk terus meningkatkan kewaspadaan penuh menghadapi potensi gelombang banjir susulan. (Yohanes Giawa)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.