Sumut

354 Siswa di Berastagi Keracunan Menu MBG: 110 Dirawat Inap, BGN Resmi Suspend Dapur SPPG Sempajaya

Habibi Caniago | 15 Agustus 2026, 15:14 WIB
354 Siswa di Berastagi Keracunan Menu MBG: 110 Dirawat Inap, BGN Resmi Suspend Dapur SPPG Sempajaya
Sebanyak 354 siswa SMAN 1 dan Perguruan Bersama Berastagi mengalami keracunan makanan pasca menyantap menu MBG. Badan Gizi Nasional resmi men-suspend operasional SPPG Sempajaya - Jhon/Akurat Sumut/ist

TANAH KARO - Ratusan pelajar dari SMA Negeri 1 Berastagi dan Yayasan Perguruan Swasta Bersama Berastagi dilarikan ke sejumlah rumah sakit dan puskesmas akibat mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8/2026).

Menanggapi tragedi tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan men-suspend (memberhentikan sementara) operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karo Berastagi Sempajaya.

Berdasarkan data rekapitulasi resmi Tim Satgas Dinas Kesehatan Kabupaten Karo hingga Jumat (14/8/2026) pukul 16.00 WIB, total korban terdampak mencapai 354 orang pelajar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 110 siswa harus menjalani rawat inap, 242 siswa dipulangkan setelah kondisinya membaik, dan 2 siswa dirujuk ke rumah sakit di Kota Medan untuk penanganan intensif.

Salah seorang korban, AG, siswa kelas 10 SMAN 1 Berastagi menceritakan detik-detik saat gejala racun mulai menggerogoti tubuhnya. Ia mengaku rasa mual luar biasa muncul sekitar setengah jam setelah menghabiskan porsi makanan MBG.

"Sekitar setengah jam nasi habis dimakan, terasa mual, pening, muntah-muntah, gatal pada bibir, lemas badan hingga tak sadarkan diri. Kaki saya juga terasa sangat dingin," ujar AG saat ditemui di ruang perawatan rumah sakit, Kamis sore.

Evakuasi dilakukan secara cepat menggunakan ambulans petugas medis hingga kendaraan pribadi para wartawan dan warga yang berada di lokasi kejadian. Para korban dilarikan ke RS Efarina Etaham, RS Amanda Raya, RSU Kabanjahe, RS Mina, RS Yoreskitha, dan Puskesmas Berastagi.

Di tengah kepanikan warga, Bupati Karo Brigjen Pol (Purn) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG, M.Kes, memberikan keterangan pers yang menuai sorotan saat meninjau korban pada Kamis malam (13/8). Bupati menyebut insiden ini "berita baik" karena seluruh korban langsung tertangani dengan cepat oleh fasilitas kesehatan.

"Ini berita baik, tidak ada yang mengkhawatirkan. Semua anak-anak kami langsung melihat menilai baik di RS Efarina, RS Amanda, RS Umum dan Mina, semuanya dalam keadaan baik," kata Bupati Karo di hadapan media.

Pernyataan tersebut memicu keprihatinan mendalam dari para orang tua murid. J. Surbakti, salah satu orang tua siswa yang anaknya menjadi korban keracunan, menilai pernyataan pimpinan daerah tersebut sangat tidak empatik dan melukai perasaan keluarga korban.

"Orang tua mana yang tidak khawatir dan cemas mendengar anaknya keracunan makanan? Coba bayangkan bila anak-anak kalian yang menjadi korban, apakah kalian masih bisa tersenyum atau tertawa? Ini bukan sekadar insiden kecil, melainkan darurat kesehatan sekolah. Nyawa anak-anak kami sangat berharga, jangan dianggap hanya sekadar angka," tegas Surbakti dengan nada tajam, Jumat (14/8).

Menyikapi eskalasi emosi warga, Pemkab Karo bersama Forkopimda menggelar Apel Pagi Bersama di SMAN 1 Berastagi pada Jumat pagi (14/8). Bupati Antonius Ginting menginstruksikan Koordinator SPPG untuk memperketat quality control dan standar keamanan pangan (food safety) tanpa kompromi. Ia juga mengimbau para pelajar agar tidak trauma serta meminta masyarakat tidak terprovokasi isu-isu di media sosial.

Di sisi lain, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Karo bergerak cepat melakukan inspeksi ke rumah sakit. Ketua DPC PDI Perjuangan Karo Peri Edisonta Milala bersama Ketua Fraksi Suriyadi Purba mendesak agar kasus ini diusut tuntas secara hukum dan transparan.

"Tindakan prioritas adalah memastikan seluruh korban mendapat perawatan medis terbaik secara gratis. Kami mendesak dilakukan investigasi menyeluruh untuk mencari akar masalah ini agar kejadian serupa tidak terulang kembali," tegas Peri Edisonta Milala.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kantor KPPG Medan telah mengambil sampel sisa lauk-pauk untuk diuji di laboratorium medis. Kepala Kantor KPPG Medan Donal Simanjuntak mengungkapkan bahwa pengujian parameter kimia awal menunjukkan hasil negatif, namun pengujian mikrobiologi masih membutuhkan waktu beberapa hari.

"Sebagai bentuk tindakan tegas dan kehati-hatian, operasional SPPG Karo Berastagi Sempajaya resmi di-suspend (diberhentikan sementara) hingga seluruh hasil investigasi keluar dan standar keamanan pangan terpenuhi," ungkap Donal Simanjuntak. (Jhon)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.