Trump Serang Fasilitas Nuklir Iran, Harga Minyak Dunia Melejit ke Rp1,5 Juta per Barel!

AKURAT SUMUT - Presiden AS Donald Trump menginformasikan bahwa pada Sabtu malam, pesawat-pesawat tempur Amerika membombardir tiga fasilitas nuklir di Iran yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Trump menegaskan tindakan ini ditujukan untuk meniadakan potensi ancaman nuklir dari Tehran.
Menurut Trump, “Operasi ini berhasil menghancurkan ketiga lokasi secara menyeluruh dan tak dapat diperbaiki,” katanya, menandai keberhasilan serangan yang menurutnya paling rumit dalam sejarah operasi tersebut.
Trump juga memperingatkan bahwa jika Iran tidak memilih jalan damai, masih banyak target lain yang siap disasar.
“Kami sudah menangani yang paling sulit, sekarang giliran Iran mengambil langkah konkret menuju perdamaian,” ujarnya.
Karena bursa global tutup selama akhir pekan, investor tidak bisa langsung merespons. Namun ketika perdagangan dibuka, harga WTI melonjak 2,7% ke level US$75,80 per barel (sekitar Rp1,137 juta), dan Brent naik 2,4% menjadi US$78,88 per barel (sekitar Rp1,183 juta).
Analis memprediksi, jika Iran menutup Selat Hormuz, jalur transit sekitar 20% pasokan minyak dunia, harga bisa melesat ke US$90–100 per barel (±Rp1,35–1,5 juta).
Di sisi lain, minyak Urals Rusia kini diperdagangkan di atas US$60 per barel, tapi pelemahan rubel memotong 30% pendapatan ekspor per barel dalam mata uang lokal.
Kontrak berjangka indeks Dow turun 175 poin (0,4%), S&P 500 merosot 0,4%, dan Nasdaq turun 0,5%.
Sementara itu, Indeks Dolar AS malah menguat 0,3%, menunjukkan aliran modal ke aset aman di tengah ketegangan geopolitik.
Di Tel Aviv, indeks TA-125 menutup dengan kenaikan 1,8% di angka 2.919,62, sedangkan TA-35 naik 1,5% ke 2.877,78 level tertinggi sepanjang masa.
Penyebabnya, para investor menilai serangan AS dapat meredam ancaman nuklir Iran terhadap Israel.
Biro Energi AS mencatat lebih dari 25% minyak kelautan melewati Selat Hormuz pada 2024–Q1 2025.
Amerika sendiri mengimpor sekitar 500.000 barel per hari melalui rute ini, setara 7% total impor minyak dan kondensat AS.
Dengan ketidakpastian yang berlanjut, pasar global kini tetap siaga, menanti respons Teheran serta perkembangan geopolitik yang akan menentukan arah selanjutnya harga energi dunia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









