Sumut

Banjir Bandang Terjang 4 Kecamatan, 595 KK Terisolasi dan Puluhan Rumah Hancur di Nias Barat

Habibi Caniago | 7 September 2026, 16:21 WIB
Banjir Bandang Terjang 4 Kecamatan, 595 KK Terisolasi dan Puluhan Rumah Hancur di Nias Barat
Bencana banjir hebat menerjang Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, usai hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur tanpa henti sepanjang Minggu (6/9/2026) malam. - Dok: istimewa

Nias Barat - Bencana banjir hebat menerjang Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, usai hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur tanpa henti sepanjang Minggu (6/9/2026) malam.

Luapan air setinggi pinggang dewasa melalap pemukiman, melumpuhkan akses jalan, hingga merusak puluhan rumah warga di empat kecamatan sekaligus.

​Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nias Barat per Senin (7/9/2026), sebanyak 595 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 13 desa terdampak parah.

Wilayah terjebak banjir meliputi Kecamatan Lahomi (331 KK), Kecamatan Sirombu (110 KK), Kecamatan Mandrehe (100 KK), dan Kecamatan Mandrehe Barat (54 KK).

​Dahsyatnya arus banjir tak hanya merendam pemukiman, tetapi juga mengikis infrastruktur vital. Laporan lapangan mencatat jembatan dan akses jalan utama mengalami kerusakan serius, menyulitkan mobilitas warga. Tak hanya itu, puluhan hewan ternak warga hanyut, barang elektronik dan perabot rumah tangga rusak total, serta barang dagangan warga tersapu air.

​Hingga saat ini, sedikitnya 36 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan. Tim BPBD masih terus bergerak menyisir lokasi untuk memverifikasi tingkat kerusakan bangunan dan kerugian material lainnya. Kendati dampak kerusakan meluas, otoritas setempat mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam peristiwa mencekam ini.

​Menanggapi situasi darurat ini, Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu menginstruksikan seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk menetapkan status tanggap darurat dan bergerak cepat ke titik-titik bencana.

​“Yang paling utama adalah memastikan masyarakat dalam keadaan aman. Seluruh perangkat daerah terkait harus bergerak cepat, memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, pelayanan kesehatan tersedia, bantuan tersalurkan dengan baik, serta akses yang terganggu segera ditangani,” tegas Eliyunus saat meninjau penanganan bencana, Senin (7/9/2026).

​Pemkab Nias Barat menggandeng lintas instansi mulai dari BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas PUTR, hingga Dinas PKPLH guna mendirikan posko pelayanan darurat, dapur umum, dan menyalurkan bantuan logistik. Bupati juga menekankan agar proses pendataan dilakukan secara presisi.

​“Data harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita ingin memastikan setiap masyarakat yang terdampak mendapatkan perhatian dan penanganan sesuai kebutuhannya,” tambahnya.

​Bencana banjir tahunan ini dipicu oleh meluapnya dua sungai besar yang membelah wilayah tersebut, yakni Sungai Lahomi dan Sungai Moroo.

Mengetahui kapasitas penanganan daerah yang terbatas, Pemkab Nias Barat segera melayangkan koordinasi ke Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) dan Pemerintah Pusat.

​Langkah ini diambil guna mendesak adanya evaluasi teknis menyeluruh, penanganan sedimentasi, pelebaran alur sungai, hingga pembangunan infrastruktur penahan banjir permanen di sepanjang DAS Lahomi dan Moroo.

​Pemerintah daerah mengimbau seluruh masyarakat yang bermukim di bantaran sungai dan kawasan rawan longsor untuk tetap dalam posisi siaga satu mengantisipasi potensi hujan susulan. (Yohanes Yasaro Giawa)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.