Sumut

Dijanjikan Jadi Penyanyi, Azwar Malah Tewas di Kamboja Jadi Korban Perdagangan Orang

Kurnia | 26 Juni 2025, 13:56 WIB
Dijanjikan Jadi Penyanyi, Azwar Malah Tewas di Kamboja Jadi Korban Perdagangan Orang

AKURAT SUMUT - Kisah pilu menimpa Azwar (32), warga Bunut, Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, yang dikabarkan meninggal dunia di Kamboja setelah menjadi korban penipuan agen tenaga kerja ilegal.

Dua bulan lalu, ia terbujuk janji kerja sebagai penyanyi di kafe-kafe Malaysia, tapi justru disalurkan ke perusahaan scammer di Kamboja.

Fitri yang merupakan bibi korban, dalam permohonan di kediaman keluarga Selasa (24/6), menegaskan bahwa hanya Presiden Republik Indonesia yang dapat membantu memulangkan jenazah Azwar ke kampung halamannya.

“Kepada Bapak Presiden Prabowo yang terhormat, kami dari Sumatera Utara, Kabupaten Asahan, memohon bantuan atas meninggalnya anak saya yang bernama Azwar,” ujar Fitri sambil terisak.

Berdasarkan keterangan keluarga, pada April 2025 Azwar berangkat dengan membayar uang muka Rp 15 juta kepada agen ilegal berinisial A.

Baca Juga: Pesta Gay Bertema Family Gathering di Puncak! 74 Pria dan 1 Perempuan Ditangkap

Ia dijanjikan upah 800 dolar AS per bulan untuk tampil di Malaysia sesuai pengalaman bernyanyinya sebelumnya.

Paman korban yang bernama Rizal pada Senin (23/6), menjelaskan bahwa setelah tiba di Malaysia, Azwar justru dibawa ke Kamboja dan dipaksa bekerja di bawah tekanan target tinggi.

“Dia syok, jatuh sakit, dan akhirnya tak bisa penuhi target kerja. Akibatnya dia dipindah-pindahkan,” katanya.

Kondisi semakin memburuk ketika Azwar diminta tebusan sebesar Rp 40 juta agar diizinkan pulang.

Keluarga sempat mengirimkan Rp 15 juta sebagai uang muka, namun komunikasi terputus seketika itu juga.

Dalam penuturan di rumah duka, Rizal menuturkan bahwa kabar duka datang dari KBRI Phnom Penh pada 13 Juni 2025.

“KBRI memberi kabar bahwa Azwar meninggal pada 10 Juni pukul 08.00 pagi, jatuh dari lantai tiga,” tandasnya sambil menahan sedih.

Ironisnya, jenazah Azwar kini tertahan karena defisit biaya pemulangan yang mencapai Rp 160 juta. KBRI menawarkan dua opsi, dipulangkan dengan biaya mandiri atau dimakamkan di Kamboja dengan pembiayaan pemerintah.

Keluarga berharap uluran tangan pemerintah pusat agar biaya tersebut tidak menjadi beban tambahan.

Kembali Rizal dalam permintaan terbuka kepada pemda dan KBRI, menegaskan pentingnya keadilan bagi sang keponakan.

“Kami ingin Azwar bisa kembali, meski dalam keadaan tak bernyawa. Kami juga menuntut pelaku penipuan ini untuk menanggung biaya pemulangan,” tegasnya.

Kasus ini kembali menyoroti maraknya praktik biro perjalanan gelap yang menjebak tenaga kerja migran.

Baca Juga: Digerebek Istri Sah, Eks Sekwan DPRD OKU Selatan Kepergok di Kos Bareng Selingkuhan

Selain menyita nyawa, para korban kerap terjerat jaringan kejahatan lintas negara tanpa ada perlindungan hukum.

Kini, keluarga hanya menanti respons cepat dari Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan jenazah Azwar pulang ke Asahan dan kasusnya diusut tuntas. Tanpa kejelasan lebih lanjut, duka mereka terendam rasa tak berdaya di tanah rantau.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
I