Sumut

Kisah Kejayaan dan Kejatuhan Sritex, Pelajaran Berharga dari Raksasa Tekstil

Kurnia | 1 Maret 2025, 14:37 WIB
Kisah Kejayaan dan Kejatuhan Sritex, Pelajaran Berharga dari Raksasa Tekstil

AKURAT SUMUT - PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dari Sukoharjo , Jawa Tengah, salah satu raksasa industri tekstil Indonesia, menghadapi krisis mendalam yang berpuncak pada kepailitan.

Perusahaan yang telah berdiri lebih dari lima dekade ini mengalami tekanan keuangan besar akibat menumpuknya utang dan tantangan pasar global.

Sang pendiri Haji Muhammad Lukminto, atau yang dikenal juga dengan nama Le Djie Shin, Lahir pada 1 Juni 1946 di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, Lukminto memulai kariernya sebagai pedagang tekstil di Solo sejak usia 20-an.

Pada tahun 1966,  usaha dimulai dari sebuah kios tekstil kecil di Pasar Klewer, Solo, dengan nama UD Sri Redjeki.

Berkat kerja keras dan visi yang tajam, bisnis ini berkembang pesat. Pada tahun 1968, Lukminto membuka pabrik cetak pertamanya di Surakarta untuk memproduksi kain putih dan berwarna.

Perkembangan semakin signifikan ketika pada 1982 pabrik tenun didirikan dan pada 1992 pabrik diresmikan oleh Presiden Soeharto, menandai keberhasilan Sritex dalam merambah pasar domestik dan internasional.

Selama masa kejayaannya, Sritex dikenal sebagai produsen seragam militer bagi berbagai negara, termasuk negara-negara di Eropa.

Inovasi dan ekspansi bisnis membuat perusahaan ini menjadi salah satu pemain utama di industri tekstil, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kancah global.

Di masa Orde Baru, kedekatan Haji Muhammad Lukminto dengan pejabat tinggi pemerintahan memberikan keuntungan tersendiri.

Hubungan erat dengan tokoh-tokoh penting di pemerintahan turut mendongkrak posisi Sritex dalam memenangkan tender proyek-proyek besar, termasuk pengadaan seragam untuk instansi pemerintah, partai politik, dan TNI.

Memasuki era modern, Sritex go public pada tahun 2013 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten SRIL.

Setelah wafatnya pendiri pada tahun 2014, kepemimpinan diteruskan kepada generasi kedua. Iwan Setiawan Lukminto, salah satu putra pendiri, pernah tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan yang mencapai ratusan juta dolar.

Saat ini, perusahaan dipimpin oleh saudara Iwan, Iwan Kurniawan Lukminto, yang terus mempertahankan tradisi dan inovasi di tengah persaingan global.

Sejak tahun 2021, masalah keuangan mulai menghantui Sritex. Utang perusahaan yang mencapai hampir Rp15 triliun menjerat kinerja finansialnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa utang Sritex kepada 27 bank dan 3 multifinance mencapai total Rp14,84 triliun, dengan outstanding pinjaman di bank sebesar Rp14,64 triliun.

Kondisi ini diperparah oleh pandemi Covid-19, gangguan rantai pasok, dan kondisi geopolitik global yang berdampak pada penurunan permintaan ekspor produk tekstil.

Pada 21 Oktober 2024, Pengadilan Niaga Semarang menetapkan putusan pailit terhadap Sritex beserta tiga anak usahanya, yaitu PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya.

Putusan tersebut didasarkan pada kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran kepada kreditur, PT Indo Bharat Rayon. Proses hukum yang berlangsung mengakibatkan Sritex harus menghentikan seluruh operasionalnya mulai 1 Maret 2025.

Kepailitan ini berdampak besar, terutama pada ribuan karyawan yang harus menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Secara keseluruhan, sekitar 10.965 karyawan terdampak, yang meliputi karyawan dari berbagai anak perusahaan seperti PT Bitratex Semarang, PT Sinar Pantja Jaya Semarang, dan PT Primayudha Boyolali.

Para karyawan kini tengah mengurus hak-hak mereka, termasuk jaminan hari tua dan pesangon.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
I