Sumut

Diterpa Kerugian Rp84 Triliun, Nissan Umumkan PHK Global dan Ganti CEO!

Kurnia | 13 Mei 2025, 06:35 WIB
Diterpa Kerugian Rp84 Triliun, Nissan Umumkan PHK Global dan Ganti CEO!

AKURAT SUMUT - Nissan Motor Co. mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) tambahan sebanyak 10.000 karyawan di seluruh dunia, menyusul kerugian finansial yang membengkak hingga rekor.

Dengan langkah ini, total pekerja yang akan terdampak mencapai 20.000 orang, sekitar 15 persen dari tenaga kerja global Nissan.

Pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2025, Nissan mencatat kerugian bersih sebesar 750 miliar yen (lebih dari Rp 84 triliun).

Angka ini jauh melampaui proyeksi awal sebesar 80 miliar yen yang diumumkan pada awal Maret, sekaligus mengalahkan rekor kerugian sebelumnya pada periode 1999–2000, ketika agregasi kerugian mencapai 684 miliar yen.

“Kerugian ini menempatkan kami pada tantangan terberat sejak era krisis tahun 1999,” ujar Ivan Espinosa, Presiden dan CEO Nissan yang mulai menjabat sejak 1 April 2025.

Restrukturisasi dan Ganti CEO

Ketika memperingatkan hasil keuangan yang suram bulan lalu, manajemen Nissan juga mengumumkan serangkaian pemangkasan biaya dan penyesuaian operasional.

Di antaranya, pembatalan rencana pembangunan pabrik baterai senilai US$ 1 miliar di Jepang selatan karena kondisi pasar yang dianggap tidak mendukung investasi jangka panjang.

Krisis internal Nissan semakin diperparah oleh beban utang dan penurunan peringkat oleh agensi pemeringkat internasional.

“Profitabilitas yang lemah dan portofolio model usang telah memaksa kami mengubah strategi,” kata perwakilan Moody’s yang menurunkan status utang Nissan ke level non-investment grade.

Tantangan Pasar Global

Persaingan ketat di segmen kendaraan listrik Tiongkok dan beban tarif impor AS menjadi tekanan eksternal utama.

Menurut Tatsuo Yoshida, analis di Bloomberg Intelligence, “Kebijakan tarif 25 persen dari Amerika Serikat membuat harga jual Nissan sulit dinaikkan tanpa kehilangan pangsa pasar.”

Dia menambahkan bahwa konsumen Nissan cenderung lebih sensitif terhadap harga dibandingkan merek lain, sehingga ruang untuk penyesuaian harga sangat terbatas.

Di Tiongkok, meski pasar mobil listrik tumbuh pesat, merek lokal seperti BYD memimpin penjualan dengan margin besar.

Nissan kini berupaya memperkuat posisinya melalui investasi senilai 10 miliar yuan (sekitar US$ 1,4 miliar), namun hasilnya baru akan tampak dalam beberapa tahun mendatang.

Setelah gagalnya wacana merger setara dengan Honda pada Februari lalu, perhatian kini tertuju pada kemungkinan aliansi strategis.

Beberapa pihak melihat Hon Hai Precision Industry (Foxconn) sebagai calon mitra potensial. “Kami terbuka untuk kolaborasi teknologi dan manufaktur,” ungkap juru bicara Foxconn, merujuk pada kesepakatan pengembangan kendaraan listrik bersama Mitsubishi Motors yang sudah berjalan.

Dengan skala PHK yang kini mencapai 20.000 orang, Nissan akan fokus pada efisiensi lini produksi dan penguatan model-model unggulan.

“Kami harus menyeimbangkan restrukturisasi dengan inovasi produk,” tegas Espinosa.

Rencana ke depan mencakup peremajaan portofolio, percepatan pengembangan kendaraan listrik, dan upaya penetrasi pasar baru melalui kemitraan.

Meski tantangan berat masih menanti, manajemen Nissan optimis bahwa langkah-langkah korporasi ini akan menata ulang pondasi keuangan dan operasional, sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan berkelanjutan di era mobilitas elektrik.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
I