Sumut

Rojali & Rohana Kuasai Mal, Fenomena Baru atau Alarm Daya Beli Melemah?

Kurnia | 25 Juli 2025, 01:34 WIB
Rojali & Rohana Kuasai Mal, Fenomena Baru atau Alarm Daya Beli Melemah?

AKURAT SUMUT - Jangan heran kalau jalan-jalan ke mall akhir-akhir ini sering nemu rombongan anak muda yang isinya cuma foto-foto, duduk-duduk lama di food court, atau keliling toko... tapi jarang beli.

Mereka adalah Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan dekatnya Rohana (Rombongan Hanya Nanya). Fenomena ini bukan cuma di Jakarta, tapi juga merambah kota besar seperti Medan, jadi tanda tanya besar sekaligus alarm ekonomi.

Bayangin: sekelompok anak muda dengan jaket thrifted atau outfit senada, nongkrong berjam-jam di tangga eskalator, foto-foto aesthetic di depan etalase, atau cuma sekadar ngadem dari panasnya kota.

Mereka masuk ke toko-toko, lihat-lihat barang, bahkan nanya-nanya harga... tapi transaksi? Nol.

Fenomena ini bikin pengunjung lain geleng-geleng dan pengelola mal pusing tujuh keliling.

Kata para pemangku kepentingan, ini bukan hal baru. Tapi skala dan frekuensinya sekarang bikin mata terbuka lebar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso, saat ditemui di Jakarta (23/7), bersikap santai. “Kan kita bebas. Mau beli di online atau offline, itu hak konsumen. Dari dulu juga ada fenomena seperti ini,” ujarnya.

Beliau ngerti banget keinginan konsumen lihat produk langsung buat pastiin kualitas dan harga. Pemerintah, tegasnya, gak bisa maksa orang belanja offline.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja, ngasih penjelasan lebih dalam.

Baca Juga: Dan Terjadi Lagi! ASN Cianjur Ramai-ramai Gugat Cerai Usai Jadi PPPK - Ada Apa?

“Dikarenakan uang yang dipegang masyarakat kelas menengah bawah semakin sedikit, terjadi kecenderungan belanja barang harga satuan rendah,” jelasnya. Orang sekarang lebih milih kebutuhan pokok, kebutuhan sekunder dipangkas habis. Mal pun berubah fungsi, bukan cuma buat belanja, tapi jadi tempat nongkrong, hiburan, atau kumpul keluarga. “Kondisi ini tidak akan selamanya. Saat daya beli pulih, tren belanja akan membaik,” tambahnya penuh harap.

Ketua APPBI Sumut Herri Zulkarnaen ngaku fenomena Rojali juga kentara banget di mal-mal Medan.

“Setelah Covid pemulihannya lama, daya beli turun jauh, ditambah belanja online murah dan mudah. Mereka datang lihat harga di mal, belinya online,” ungkapnya pada Kamis (24/7). Alasannya kadang sederhana, “Cuaca juga panas, jadi banyak yang ngadem tapi enggak belanja. Kalau beli, paling makan itu pun yang biasa-biasa aja.” Akibatnya? Okupansi mal jomplang. Ada yang 100% kayak Sun Plaza, ada yang merana cuma 2% seperti Palladium. “Bisnis makanan sih masih laku, orang jalan-jalan ya cari makan,” tuturnya.

Pengamat ekonomi Handi Risza (yang juga Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi) ngasih perspektif lebih serius.

“Fenomena Rojali itu ekspresi sosial dari melemahnya daya beli masyarakat. Bukan cuma tren, ini gejala ekonomi struktural yang mengkhawatirkan!” tegasnya dalam keterangan Kamis (24/7).

Penyebabnya kompleks, harga barang naik, penghasilan stagnan, uang dialihkan ke kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan. Bahkan kelas atas pun mulai lebih hati-hati belanja, fokus ke investasi.

Data BPS yang disebutkannya bikin merinding, jumlah kelas menengah Indonesia menyusut drastis, dari 57,33 juta orang (2019) jadi cuma 47,85 juta (2024).

“Ini alarm serius. Kalau kelas menengah terus tergerus, efek domino ke ritel, properti, sampai UMKM bakal gede banget!” pungkas Handi.

E-commerce juga disorot. Banyak orang window shopping di mal, lalu belanja online karena lebih murah. Tapi Handi ngasih catatan,

“Data penerimaan pajak (PPN & PPnBM) sampai Juni 2025 turun. Artinya, belanja masyarakat lemah baik offline maupun online.” Dia proyeksikan tekanan ke ritel bakal berlanjut sampai akhir tahun.

PKS lewat Handi mendesak pemerintah bertindak. Bantuan sosial (Raskin, BLT) untuk kelas bawah tetap penting. 

“Pemerintah harus hadir juga untuk kelas menengah yang rentan!” Caranya? Kasih insentif langsung kayak subsidi transportasi, tol, BBM, dan listrik. “Kebijakan harus terukur dan beda per kelas sosial,” tandasnya.

Sementara pengelola mal Seperti Herri di Medan berusaha beradaptasi. “Desain mal harus lebih menarik, toko-toko harus rajin promo. Siapa tau yang awalnya cuma lihat-lihat, jadi kepincut beli,” ujarnya penuh strategi.

Fenomena Rojali & Rohana ngejewer kita semua, bahwa daya beli lagi sakit. Mal pun dipaksa berinovasi, bertransformasi dari sekadar pusat belanja jadi ruang publik multifungsi.

Apakah ini cuma fase sementara? Atau malah jadi budaya urban baru? Waktu yang bakal kasih jawaban. Yang pasti, pemulihan ekonomi dan kebijakan pemerintah yang tepat jadi kunci utama.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
I