Sumut

HASIL OTOPSI GEMPARKAN PUBLIK! Tim Forensik Bongkar Tabir Kematian Mantan Istri Polisi di Medan

Nuraini Akurat Sumut | 7 Agustus 2026, 21:22 WIB
HASIL OTOPSI GEMPARKAN PUBLIK! Tim Forensik Bongkar Tabir Kematian Mantan Istri Polisi di Medan
Dokter Forensik RS Bhayangkara, Dr. Mistar Ritonga didampingi Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak - Ist

MEDAN — Misteri kematian wanita muda berinisial W (30), mantan istri anggota kepolisian Brigadir I, akhirnya menemui titik terang yang mengejutkan.

Di tengah guncangan isu penganiayaan dan tuduhan tajam pihak keluarga, Tim Dokter Forensik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara secara tegas mematahkan spekulasi publik dan memastikan tidak ada satu pun tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.

Pernyataan menohok ini disampaikan langsung oleh Dokter Forensik RS Bhayangkara, Dr. Mistar Ritonga, saat memberikan keterangan pers di Mapolrestabes Medan pada Kamis (6/8/2026).

Langkah ini merespons tuduhan dramatis dari ayah korban, SG (56), yang meyakini putrinya tewas akibat dianiaya sebelum akhirnya ditemukan tak bernyawa.

Dr. Mistar Ritonga membongkar secara mendalam detail medis di balik kondisi jenazah yang sempat memicu kehebohan tersebut. Ia menegaskan bahwa lebam dan kebiruan di tubuh korban murni merupakan dampak fisiologis dari luka tembak fatal yang menembus dasar tengkorak, bukan hasil hantaman benda tumpul atau cekikan.

"Dari pemeriksaan awal, saya tidak menjumpai tanda-tanda kekerasan," tegas Dr. Mistar di hadapan awak media.

Menjawab tudingan lebam di area mata yang sempat disangka bekas pukulan, Dr. Mistar memberikan penjelasan ilmiah yang mengejutkan.

"Mata lebam secara fisiologis bukan oleh karena kekerasan. Luka tembaknya berjalan ataupun menelusuri di dasar tengkorak. Di sana ada pembuluh darah yang disebut circulus willisi, yang mendarahi kelopak mata. Jadi kalau pecah, terjadi hematom yang khas disebut hematom kacamata," paparnya secara rinci.

Tak hanya itu, Dr. Mistar juga menepis kecurigaan keluarga terkait adanya jahitan di area leher hingga tenggorokan serta memar di beberapa bagian tubuh lain.

Bekas Jahitan, jelasnya, disebabkan oleh prosedur otopsi medis lengkap secara menyeluruh (incision to symphysis), dari kepala hingga perut bawah, demi memeriksa organ dalam sebelum akhirnya dijahit kembali secara rapi.

Lebam di Punggung Kaki dan Jemari, dipastikannya, sebagai livor mortis (lebam mayat), yaitu penumpukan darah secara alami akibat gravitasi pascamati, yang secara visual sering disalahartikan oleh orang awam sebagai luka memar akibat penganiayaan.

Sebelumnya, suasana haru di rumah duka sempat diwarnai klaim emosional dari ayah korban, SG (56). Pada Rabu (5/8/2026), SG secara terbuka menyatakan ketidakpercayaannya bahwa sang putri tewas mengakhiri hidup dengan senjata api milik Brigadir I.

"Ini bukan penembakan diri sendiri. Ini hasil dianiaya! Ada pencekikan leher dan mata lebam. Semua badannya agak kebiru-biruan," tuduh SG saat itu.

Namun, lewat penjelasan komprehensif dan ilmiah dari tim ahli forensik ini, pihak kepolisian kini mematahkan seluruh tuduhan tersebut. Tanda-tanda fisik pada tubuh korban dipastikan murni fenomena medis akibat luka tembak dan proses kematian alami, sekaligus mengandaskan narasi penganiayaan fisik yang sempat memanas di tengah masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.